KEDIRI- Keadaan Sungai Brantas kini mulai memprihatinkan. Sungai
yang merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa ini sudah tidak bisa
terjamin lagi kualitasnya. Harga pasir yang terus melonjak menyebabkan para
penambang pasir tergiur untuk menyerobotnya.
Terutama di daerah Kediri dan Nganjuk yang sudah tidak bisa lagi diperkirakan
berapa banyak orang yang bekerja sebagai penambang pasir. Mulai dari penambang
pasir secara manual sampai penambang pasir yang menggunakan alat modern yang
disebut alat penyedot pasir. Alat
ini dipercayai oleh para penambang pasir karena bisa menghasilkan pasir lebih
banyak daripada alat keruk biasa.
Menurut Agus Misbah,
salah satu warga daerah Papar Kediri,
munculnya alat penyedot pasir modern ini
meyebabkan menghilangnya alat tradisional yang banyak digunakan oleh rakyat biasa.
“Sekarang penambang pasir yang manual sudah tidak ada apa-apanya dibandingkan penambang
pair yang menggunakan alat penyedot pasir”,
ujarnya saat diwawancarai diatas perahu tempatnya mencari nafkah sebagai
penarik perahu(20/12).
Meratanya pekerja tambang pasir,
mengakibatkan bertambahnya kedalaman air sungai brantas. Bahkan para penambang
tersebut tidak memperdulikan hal tersebut. Dengan paksa, mereka tetap
melanjutkan pekerjaannya yang mereka pikir sudah menjadi kewajibannya.
Mirisnya lagi, masih banyak saja para
penambang pasir yang mengutamakan impor pasir dari negeri asing daripada negeri
sendiri. Hal ini dikarenakan harga pasir luar negeri jauh lebih murah
dibandingkan harga pasir dalam negeri. Warga masyarakat yang memilih jalur
impor ini, bisa meraih keuntungan lebih banyak dengan mematok harga jual jauh
lebih tinggi dari harga beli. Artinya, mereka menyetarakan harga jual penambang
pasir dalam negeri.
0 komentar:
Posting Komentar