27.12.12

Langkanya Penambang Tradisonal


KEDIRI- Keadaan Sungai Brantas kini mulai memprihatinkan. Sungai yang merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa ini sudah tidak bisa terjamin lagi kualitasnya. Harga pasir yang terus melonjak menyebabkan para penambang pasir tergiur untuk menyerobotnya. Terutama di daerah Kediri dan Nganjuk yang sudah tidak bisa lagi diperkirakan berapa banyak orang yang bekerja sebagai penambang pasir. Mulai dari penambang pasir secara manual sampai penambang pasir yang menggunakan alat modern yang disebut alat penyedot pasir. Alat ini dipercayai oleh para penambang pasir karena bisa menghasilkan pasir lebih banyak daripada alat keruk biasa.
Menurut Agus Misbah, salah satu warga daerah Papar Kediri,  munculnya alat penyedot pasir modern ini meyebabkan menghilangnya alat tradisional yang banyak digunakan oleh rakyat biasa. “Sekarang penambang pasir yang manual sudah tidak ada apa-apanya dibandingkan penambang pair yang menggunakan alat penyedot pasir”,  ujarnya saat diwawancarai diatas perahu tempatnya mencari nafkah sebagai penarik perahu(20/12).
Meratanya pekerja tambang pasir, mengakibatkan bertambahnya kedalaman air sungai brantas. Bahkan para penambang tersebut tidak memperdulikan hal tersebut. Dengan paksa, mereka tetap melanjutkan pekerjaannya yang mereka pikir sudah menjadi kewajibannya.        
Mirisnya lagi, masih banyak saja para penambang pasir yang mengutamakan impor pasir dari negeri asing daripada negeri sendiri. Hal ini dikarenakan harga pasir luar negeri jauh lebih murah dibandingkan harga pasir dalam negeri. Warga masyarakat yang memilih jalur impor ini, bisa meraih keuntungan lebih banyak dengan mematok harga jual jauh lebih tinggi dari harga beli. Artinya, mereka menyetarakan harga jual penambang pasir dalam negeri.

0 komentar:

Posting Komentar