Selain itu, juga banyak dari mereka
yang bekerja sebagai pencari ikan, dan juga penambang pasir. Fachris, salah seorang
guru dari MAN 3 Kediri, mengakui bahwa pasir di Sungai Brantas sangatlah
terjamin
kualitasnya. Inilah yang menyebabkan membeludaknya penambangan pasir
secara besar-besaran. Awalnya para penambang pasir hanya menggunakan alat
tradisional. Orang desa biasa menyebutnya dengan “rinjing”. Caranya dengan menyelam, mereka
mengeruk pasir sedikit demi sedikit dan dikumpulkan di pinggiran sungai. Dari hal tersebut yang mereka hasilkan pun tidak seberapa banyak. Dalam sehari
mereka hanya mampu mengumpulkan pasir 2-3 truk saja. Namun, hal ini tidak terjadi pada
zaman sekarang. Seiring dengan berkembangnya zaman, orang-orang banyak dililit
dengan masalah uang. Tak peduli dengan apa dan bagaimana caranya mereka harus
tetap mendapatkan uang. Dan pada saat itu pula, penambangan pasir di Sungai Brantas terus terjadi diberbagai daerah. Muncul alat baru yaitu alat mekanik yang disebut
penyedot pasir. Mayoritas alat penyedot ini digunakan oleh orang yang memiliki
modal besar karena alat ini menggunakan mesin diesel. Dengan alat mekanik ini,
para penambang pasir bisa menghasilkan pasir lebih banyak dibandingkan alat
keruk biasa. “Dalam
sehari bisa
lebih dari 8
truk,” aku Wartono seorang pekerja penambang pasir
di daerah Pagak-Ngadiluwih (26/12).
Setiap truknya dipatok seharga 400-500 ribu rupiah.
Bukan hanya dari daerah Kediri saja, para pendatang dari daerah luar Kediri pun silih berganti. Hampir setiap hari, truk-truk pengangkut pasir berdatangan keluar masuk Kediri. Bahkan mereka tak memperdulikan keseimbangan lingkungannya. Dengan menggunakan mesin diesel, mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk berhasil mengumpulkan pasir setiap truknya. Menurut Wartono, cukup dengan menyalakan mesin dieselnya, pasir dapat terkumpul hanya dengan waktu kurang lebih 3-4 jam per truk.
Penambangan pasir secara terus-menerus menyebabkan bertambahnya kedalaman dasar sungai. Inilah yang menyebabkan para penambang pasir tradisional mengurung niatnya untuk tidak lagi turun ke sungai. Hal ini dikarenakan, mereka takut jika sekali menyelam mereka akan tenggelam. Mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan. Sementara itu, para penambang pasir dengan menggunakan mesin diesel terlihat semakin merajalela.
Selain itu, keresahan akibat penambangan pasir “ugal-ugalan” juga dirasakan oleh para petani. Sekarang mereka kesulitan mencari air untuk mengairi sawahnya. Penurunan dasar Sungai brantas menyebabkan saluran irigrasi tidak bisa lagi dialiri air. Akhirnya tanaman mereka menjadi kering dan tidak bisa tumbuh memuaskan seperti dulu.
0 komentar:
Posting Komentar